Rabu, 01 Oktober 2014

SOSIOLOGI EKONOMI MAX WEBER



PENDAHULUAN

Sosiologi merupakan suatu ilmu yang telah melalui proses perkembangan pemikiran filosofi dan empirical-histories.Fenomena sosial yang terjadi di Eropa Barat antara abad ke-15 hingga abad ke-18 merupakan latar belakang yang sangat mempengaruhi perkembangan sosiologi. Sosiologi dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki paradigma majemuk yang disebabkan oleh kompleksitas permasalahan yang ada di masyarakat sehingga menghasilkan berbagai macam sudut pandang dalam sosiologi itu sendiri.
Kelahiran sosiologi memiliki tujuan untuk memahami tingkat perkembangan manusia dan masyarakat dalam kehidupan sosial sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh bapak sosiologi Auguste Comte lewat teori Positif-nya. Sosiologi dianggap penting bagi para ilmuwan, baik ilmuwan sosial maupun ilmuwan-ilmuwan lain di dalam mengkaji tingkat kehidupan sosial masyarakat yang berkembangan dari zaman ke zaman.
Setiap tokoh sosiologi klasik tersebut memiliki teori unggulan masing-masing dengan sudut pandang yang terkadang berbeda. Ada yang mengemukakan teori baru namun ada pula yang menyempurnakan teori-teori yang telah ada sebelumnya. Salah satunya yaitu Max Weber yang terkenal dengan suatu metode dengan nama Verstehende.
Perkembangan sosiologi tidak telepas dari jasa-jasa para sosiolog lainnya, seperti Auguste Comte (bapak sosiologi), Emile Dukheim, Karl Max, Ferdinan Tonnis, Max Weber, dan sederetan tokoh sosiologi lainnya. Mereka ini dianggap orang yang paling berjasa dalam perkembangan sosiologi karena buah pikiran mereka menjadi dasar rujukan dalam memahami konsep kehidupan sosial kemasyarakatan.





PEMBAHASAN

A.      Biografi Max Weber
Max Weber dilahirkan di Erfurt, Jerman pada 21 April 1864. Ia berasal dari keluarga kelas menengahyang terpandang di kalangan politik Partai Liberal Nasional (National Liberal Party) di masa Bismark. Max Weber terlahir dari dua karakter orangtua yag berbeda dan itu sangat mempengaruhi orientasi intelektual dan psikologis Weber. Ayah Max Weber adalah seorang ahli hukum yang cakap dan penasihat kota praja, berasal dari keluarga pedagang linen dan produsen tekstil di Jerman bagian barat. Sang ayah adalah seorang yang menyukai kesenangan duniawi. Sedangkan Ibu Weber adalah seorang calvinis yang taat, wanita yang berusaha menjalani hidup prihatin (ascetic), tanpa kesenangan yang didambakan suaminya. Perbedaan antara orang tuanya tersebut membawa dampak besar pada orientasi intelektual dan perkembangan psikologisnya.[1]
Pada awalnya, Weber memilih orientasi hidup ayahnya kemudian mendekati orientasi hidup ibunya. Pilihan yang paling dipilih olehnya ini ternyata berpengaruh negatif terhadap kejiwaan Weber. Sehingga pada usia 16 tahun, Weber pergi dari rumah dan belajar di Universitas Heidelberg. Saat itu Weber tidak hanya menunjukkan jati dirinya seperti pandangan hidup ayahnya, tetapi pada waktu itupun memilih karier hukum seperti ayahnya. Setelah lulus, Weber menjalani dinas militer dan pada tahun 1884, ia kembali ke Berlin ke rumah orangtuanya dan belajar di Universitas Berlin.
Weber mulai membangkitkan seluruh waktunya untuk kehidupan akademisnya ketika dia menerima kedudukan sebagai profesor ekonomi di Universitas Freiburg tahun 1894. Pada tahun 1896, giatnya dalam bekerja ini membawanya pada posisi sebagai profesor ekonomi di Heidelberg.
Pada tahun 1897, ketika karier akademik berkembang, ayahnya meninggal dunia setelah bertengkar hebat dan diusir oleh Max dari rumah. Hal ini membuat Weber merasa bersalah sehingga kesehatan fisik dan psikologinya terganggu selama bertahun-tahun. Tahun1899, dia harus dirawat dirumah sakit untuk beberapa minggu. Pada tahun 1903 tidak sampai tahun 1904, ketika ia menyampaikan kuliah perdananya dalam waktu enam setengah tahun, Weber mampu kembali aktif kedalam kehidupan akademik.
Dalam kehidupan Weber, dan lebih penting lagi dalam karya-karyanya, terdapat ketegangan antara pikiran birokratis, sebagaimana ditampilkan oleh sang ayah, dengan religiusitas ibunya. Ketegangan yang tak terpecahkan itu merasuk ke dalam karya Weber yang berjudul The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Weber meninggal dunia pada tanggal 14 Juni 1920 pada saat dia mengerjakan karya terpentingnya Economy and Society.[2]

B.       Pendekatan Sosiologi Max Webber
Max Weber mendefinisikan sosiologi sebagai sebuah ilmu yang mengusahakan pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial agar dengan cara itu dapat menghasilkan sebuah penjelasan kausal mengenai pelaksanaan dan akibat-akibatnya.
Teori sosiologi interpretatif (Verstehen) berpandangan bahwa dunia sosial berbeda dengan dunia alam yang harus dimengerti sebagai suatu penyelesaian secara terlatih dari manusia sebagai subyek yang aktif dan pembentukan dunia ini sebagai sesuatu yang mempunyai makna, dapat diperhitungkan atau dimengerti dengan jelas. Menurut Max Weber, sosiologi adalah ilmu yang berhubungan dengan pemahaman interpretatifyang dimaksudkan agar dalam menganalisis dan mendeskripsikan masyarakat tidak sekedar yang tampak saja, melainkan dibutuhkan interpretasi agar penjelasan tentang individu dan masyarakat tidak keliru. Weber merasa bahwa sosiolog memiliki kelebihan daripada ilmuwan alam. Kelebihan tersebut terletak pada kemampuan sosiolog untuk memahami fenomena sosial, sementara ilmuwan alam tidak dapat memperoleh pemahaman serupa tentang perilaku atom dan ikatan kimia.[3]
Dengan demikian, Weber membedakan tindakan dari tingkah laku pada umumnya dengan mengatakan bahwa sebuah gerakan bukanlah sebuah tindakan jika gerakan itu tidak memiliki makna subjektif untuk orang yang bersangkutan. Ini menunjukkan bahwa seorang pelaku memiliki sebuah kesadaran akan apa yang ia lakukan yang bisa dianalisis menurut maksud-maksud, motif-motif dan perasaan-perasaan sebagaimana mereka alami.

C.      Pemikiran Max Weber dan Karya-Karyanya
Max Weber pada intinya mengemukakan teori tentang proses rasionalisasi. Weber tertarik pada masalah “Mengapa institusi sosial di dunia barat berkembang semakin rasional tapi di belahan dunia lain tampak ada rintangan kuat yang menghambat perkembangan tersebut?”. Dalam masalah ini, Weber memusatkan perhatiannya pada satu dari empat jenis proses yang diidentifikasikan oleh Kalrberg, yaitu Rasionalitas Formal yang meliputi proses berpikir seseorang dalam membuat pilihan mengenai alat dan tujuan yang biasanya merujuk pada kebiasaan, peraturan, dan hukum yang diterapkan secara universal dimana ketiganya berasal dari berbagai struktur berskala besar terutama birokrasi dan ekonomi.[4]
Weber melihat birokrasi sebagai contoh klasik dari rasionalisasi, dan memasukkan diskusinya mengenai proses birokratisasi ke dalam diskusi yang lebih luas tentang lembaga politik. Weber membedakan tiga jenis sistem otoritas yaitu tradisional, karismatik, dan rasional-legal. Sistem otoritas rasional-legal hanya dapat berkembang dalam masyarakat Barat Modern dan hanya dalam sistem itulah birokrasi tersebut dapat berkembang penuh. Masyarakat di belahan dunia lain masih didominasi sistem otoritas tradisional ataupun karismatik yang merupakan rintangan perkembangan sistem hukum rasional dan birokrasi modern.
Weber juga membuat analisis rinci tentang mengapa sistem ekonomi rasional yang berkembang di dunia barat, gagal berkembang di belahan dunia lain. Dalam hal ini, Weber mengakui peran sentral agama, dimana dia di satu sisi terlibat dialog dengan Marxis untuk menunjukan bahwa agama bukanlah sebuah epifenomena semata, melainkan agama telah memainkan peran kunci dalam pertumbuhan kapitalisme di Barat, tetapi gagal di masyarakat belahan dunia yang lain. Weber menegaskan, sistem agama rasionallah (Calvinisme) yang berperan sentral dalam pertumbuhan kapitalisme di Barat. Tapi dibelahan dunia lain, Weber mengkaji dan menemukan sistem agama yang irrasional yang merintangi perkembangan sistem ekonomi rasional, walaupun pada akhirnya rintangan tersebut hanya untuk sementara karena sistem ekonomi bahkan seluruh struktur sosial masyarakat akan menjadi rasional.
Adapun karya-karya popular Max Weber antara lain:
1.      The protestan etnic and the spirit of capitalisme
2.      Economy and Society
3.      From Max Weber Esay in Sociology
4.      The Theory Sosioal and Economic and Organization
5.      General Economi History
6.      Religionasseziologie.[5]

D.      Tokoh yang Mempengaruhi Max Weber
Tokoh yang mempengaruhi Max Weber adalah Karl Mark. Weber memandang Mark dan para penganut Marxis pada zamannya sebagai deternis ekonomi yang merupakan teori-teori berpenyebab tunggal tentang kehidupan sosial. Mereka juga menganggap ide-ide hanyalah kepentingan material dan kepentingan materi adalah penentu ideologi. Sedangkan di sini Weber menyanggahnya, Weber lebih mencurahkan perhatiannya dan gagasannya terhadap ekonomi. Weber pun memusatkan perhatiannya pada pengaruh gagasan keagamaan terhadap ekonomi. Namun, Weber juga memperluas isi-isi yang telah dijelaskan oleh Mark. Weber memperluas gagasan Mark tentang teori stratifikasi. Weber memperluas teori tersebut dengan menambahkan prestige atau status dan kekuasaan sebagai dasar stratifikasi.
Tokoh lain yang mempengaruhi Weber adalah Immanuel Kant, yang membedakan antara isi dan bentuk kehidupan nyata. Isi dapat di pahami melalui bentuk, sehingga membuat karya Weber menjadi lebih statis. Kemudian, pengaruh selanjutnya diterima Nietzcshe yang mana membuktikan bahwa kebutuhan individu untuk bertahan terhadap pengaruh birokrasi dan struktur masyarakat modern yang lain.[6]

E.       Teori Max Weber dalam Perkembangan Sosiologi
1.         Aliran Protestan dan Kapitalisme
Karya Max Weber yang paling terpenting adalah The Protestan Etnic and the Spirit of Capitalisme. Dalam teorinya, Weber menjelaskan peran dan fungsi agama terhadap bangkitnya kapitalisme modern.
Sistem kapitalis modern itu hanya dilahirkan di Eropa Barat (kemudian Amerika Utara) dan perkembangannya sangat terdorong oleh adanya sesuatu yang disebut semangat kapitalisme. Semangat kapitalisme bukan esensi kapitalisme sebagai sistem ekonomi, tetapi suatu sikap mental yang memungkinkan kapitalisme modern. Semangat kapitalisme adalah sikap mencari keuntungan secara rasional dan sistematis.[7]
Weber memusatkan perhatian pada protestantisme sebagai sebuah sistem gagasan dan pengaruhnya terhadap sistem ekonomi kapitalis. Di periode awal kapitalisme, agen terpenting adalah orang protestan. Hal ini diteliti oleh yang Weber kemudian korelasi ini pun dibuktikan. Weber menarik kesimpulan bahwa terdapat peran khusus orang-orang protestan dalam menggunakan kapitalisme, yang mana salah satunya keyakinan agama mereka. Keimanan protestan tersebut telah menghasilkan motivasi aktivitas pro-kapitalis yang mana berorientasi pada kehidupan duniawi. Di mana bakti keagamaan biasanya disertai dengan penolakan terhadap urusan duniawi termasuk pengejaran ekonomi dan hal tidak terjadi pada protestanisme. Weber juga mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang mendukung pengajaran yang rasional terhadap keuntungan ekonomi.
Analisanya mengenai etika protestan serta pengaruhnya dalam meningkatkan pertumbuhan kapitalisme menunjukkan pengertiannya mengenai pentingnya kepercayaan agama serta nilai dalam membentuk pola motivasional individu serta tindakan ekonominya. Pengaruh agama terhadap pola perilaku individu serta bentuk-bentuk organisasi sosial juga dapat dilihat dalam analisa perbandingannya mengenai agama-agama dunia yang besar.Weber juga mengemukakan mengenai analisa tipeideal dimana memungkinkan untuk mengatasi peristiwa-peristiwa khusus dan untuk memberikan analisa perbandingan dengan menggunakan kategori-kategori teoritis yang umum sifatnya. Keseluruhan pendekatannya menekankan bahwa kepentingan ideal dan materil mengatur tindakan orang, dan bahwa hubungan antara ideal agama dan kepentingan ekonomi sebenarnya bersifat saling tergantung. Dengan kata lain, hubungannnya itu bersifat timbal balik, termasuk saling ketergantungan antara protestantisme dan kapitalisme. Dalam perkembangan kapitalismemodern, menuntut untuk pertumbuhan modal, menuntut kesediaan untuk tunduk pada disiplin perencanaan yang sistematis,bekerja secara teratur dalam suatu pekerjaan, serta untuk tujuan-tujuan di masa mendatang.
2.         Rasionalisasi
Karya Weber pada dasarnya adalah mengemukakan teori tentang rasionalisasi. Secara spesifik, berkembangnya birokrasi dalam kapitalisme modern merupakan sebab akibat dari rasionalisasi hukum, politik, dan industri. Menurutnya, birokratisasi itu sesungguhnya merupakan wujud dari administrasi yang konkrit dari tindakan yang rasional, yang menembus bidang peradaban Barat, termasuk ke dalamnya seni musik dan arsitektur. Kecenderungan totalitas ke arah rasionalisasi di dunia Barat merupakan hasil dari pengaruh perubahan sosial.Weber menyebutkan bahwa rasionalisasi merupakan ciri paling signifikan masyarakat modern yang mana ditandai oleh tiga tipe besar aktifitas manusia, yaitu:
a)      Tindakan tradisional yang terkait dengan adat istiadat.
b)      Tindakan afektif yang digerakkan oleh nafsu.
c)      Tindakan rasional yang merupakan alat yang ditujukan kearah nilai atau tujuan yang bermanfaat.
Weber menunjukkan bahwa rasionalisasi tindakan hidup sehari-hari para pendiri agama protestan mendukung kapitalisme. Weber juga melihat bahwa birokrasi merupakan klasik rasionalisasi yang mana merupakan alat untuk mencapai tujuan. Di dalam birokrasi inilah terdapat dominasi-dominasi yang mana dalam Economy and Society. Weber membaginya menjadi tiga bentuk dominasi, yakni otoritas tradisional, karismatik, dan legal-rasional. Di mana otoritas tradisional dan karismatik umumnya akan merintangi perkembangan birokrasi modern dan sistem hukum rasional karena sistem tersebut berasal dari zaman kuno.
Birokrasi menjadi dominan di segala wilayah kehidupan publik karena meningkatnya formalisasi relasi-relasi publik. Inilah awal dari proses Weberian. Meningkatnya sentralisasi birokrasi berjalan seiring dengan meningkatnya sentralisasi kekayaan. Ironisnya, seperti halnya kapitalisme yang menggerus agama, demikian pula organisasi merongrong masa yang semula justru lahir bersama-sama. Namun demikian, di dalam Protestant Ethic, Weber bukan sekedar mengatakan bahwa birokrasi eksis dalam arti institusional atau organisasi yang sempit, lebih dari itu adalah kebudayaan, praktik dan keyakinan pun menjadi birokratis. Yang menyebabkan proses demikian itu bukanlah ide-ide, melainkan kepentingan-kepentingan material dan ideal, yang dikonsepsikan oleh para aktornya.[8]
3.         Tindakan Sosial
Teori tindakan sosial, cabang penting ketiga dari behaviorisme sosial merupakan sebuah tanggapan independen terhadap permasalahan-permasalah sama yang memunculkan pluralisme behavioral dan interaksionisme simbolik. Ia mewaliki sebuah pemecahan teoritik khusus bagi permasalah-permasalah umum dari aliran itu. Dalam analisis mereka mengenai kepribadian, struktur sosial, dan perilaku kolektif, aliran keprilakuan pluralistik membangun titik tolak mereka melalui beberapa pandangan seperti halnya imitasi, inovasi, sugesti, difusi, pertentangan inovasi-inovasi dan kesadaran akan kebaikan, aliran interaksionis simbolik memilih tingkah laku-tingkah laku, harapan bersama, bahasa sebagai sebuah mekanisme antar keperilakuan dan peranan sosial sebagai hal penting dalam pendekatan mereka terhadap persoalan-persioalan yang sama.[9]Tindakan sosial meliputi setiap jenis perilaku manusia, yang dengan penuh arti diorientasikan kepada perilaku orang-orang lain. Sosiologi menurut Weber adalah suatu ilmu yang mempelajari tidakan sosial. Tidak semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. Suatu tindakan hanya dapat disebut tindakan sosial apabila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang lain.
Weber membedakan empat jenis orientasi perilaku sosial. Pertama, tindakan yang sengaja rasional yang mana menerapkan rencana yang telah dirumuskan mengenai penerapan rasional dari ilmu pengetahuan sosial, pada paradigma, model pola tindakan sosial pada umumnya. Kedua, tindakan rasional nilai yang diarahkan kepada suatu ideal yang berada di atas segala-galanya, dan tidak memperhitungkan pertimbangan-pertimbangan lain apa pun. Ketiga, tindakan yang bersifat kasih sayang yang merupakan tindakan yang dilakukan dibawah goncangan sesuatu jenis keadaan perasaan. Keempat, tindakan tradisional yang dilakukan dibawah pengaruh adat dan kebiasaan.[10]
Suatu tindakan adalah perilaku yang mempunyai makna subjektif bagi pelakunya. Ia membedakan tindakan dengan perilaku yang murni reaktif. Konsep perilaku dimaksudkan sebagai perilaku otomatisyang tidak melibatkan proses pemikiran. Stimulus datang dan perilaku terjadi, dengan sedikit saja jeda antara stimulus dengan respons. Perilaku semacam ini tidak menjadi minat sosiologi Weber. Ia memusatkan perhatiannya pada tindakan yang jelas-jelas melibatkan campur tangan proses pemikiran. Dalam teori tindakannya, tujuan Weber tak lain adalah memfokuskan perhatian pada individu, pola dan regularitas tindakan, dan bukan pada kolektivitas. Tindakan dalam pengertian orientasi perilaku yang dapat dipahami secara subjektif hanya hadir sebagai perilaku seseorang atau beberapa orang manusia.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Weber mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu yang memusatkan perhatiannya pada pemahaman interpretatif(Verstehen)atas tindakan sosial dan pada penjelasan kausal atas proses dan konsekuensi tindakan tersebut.








PENUTUP

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Max Weber (1864-1920) adalah seorang ahli teori sosiologi yang berasal dari Erfrut, Jerman. Dia berasal dari keluarga kelas menengah, namun kedua orangtuanya memiliki karakter yang sangat berbeda. Pada mulanya Weber cenderung berorientasi pada ayahnya, namun kemudian dia semakin mendekati nilai-nilai ibunya dan antipasti terhadap ayahnya pun meningkat. Weber pun bergeser pada sosiologi ekonomi. Dengan kehidupannya yang giat dalam bekerja dia membawa pada posisi sebagai profesor ekonomi di Heidelberg.
Banyak teori-teori sosiologi yang dimunculkan oleh Weber, seperti Teori Etika Protestan dan Kapitalisme, Rasionalisasi, dan Tindakan Sosial yang menekankan pada pemahaman (verstehen). Selain itu, Weber juga terpengaruh oleh beberapa ahli teori sosiologi lainnya, seperti Karl Max dan Immanuel Kant. Hasil kerja keras dan giatnya dia bekerja membawa hasil berupa karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat.


[1] Noorkholis, Max Weber Sosiologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 3.
[2]George Ritzer & Douglas J. Goodmman, Teori Sosiologi (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003), hlm. 129-131.
[3]http://nicofergiyono.blogspot.com/2013/09/teori-max-weber.html (di akses pada tanggal 31 Maret 2014 pukul 14.10 WIB.)
[4] George Ritzer & Douglas J. Goodmman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta: Kencana Renada Media Group, 2007), hlm. 37.
[5]Soerjono Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 446.
[7] J. Dwi Narwoko, Sosiologi, Teks Pengantar & Terapan (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 227-228.
[8]Peter Beilharz, Teori-Teori Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.367-368.
[9]Prof. Dr. Wardi Bachtiar, Sosiologi Klasik (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 255.
[10]Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis terhadap Karya Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber (Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press), 1986), hlm. 187-188.

PENGARUH EKONOMI INTERNASIONAL TERHADAP KESEIMBANGAN EKONOMI



PENDAHULUAN

Setiap negara tidak dapat hidup sendiri. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu, suatu negara akan membutuhkan negara lain. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan, setiap negara melakukan hubungan perdagangan. Hubungan perdagangan antarnegara ini disebut juga perdagangan internasional.
Perdangan internasional dikaji dalam ilmu ekonomi internasional yang merupakan cabang ilmu yang mempelajari segala sesuatu mengenai hubungan ekonomi antar-negara dan keterkaitan ilmu ekonomi mikro (penentuan harga/alokasi sumber) dan ilmu ekonomi makro (pendapatan nasional/ GNP, pndapatan perkapita/GDP dan sumber daya agregat).
Hubungan ekonomi internasional ini memiliki pengaruh yang sangat erat dengan keseimbangan ekonomi. yang mana dapat mempengaruhi keseimbangan supply dan demand, pendapatan nasional dan aspek mikro perusahaan. Keseimbangan ekonomi yang menjadi dinamis sebagai pengaruh bias keluar masuknya jaringan internasional dalam domestik negara. Dapat berdampak baik jika dalam persaingan tersebut mampu membawa negara tersebut berpartisipasi sebagai pelaku yang tangguh dalam perdagangan internasional dengan menyediakan kebutuhan yang mampu bersaing dalam segala aspek. Namun sebaliknya, ketika negara tersebut hanya terlibat menjadi konsumtif makan akan membawa dampak pada keruntuhan yang dimulai dari jatuhnya nilai mata uang negara tersebut.







PENGARUH EKONOMI INTERNASIONAL TERHADAP KESEIMBANGAN EKONOMI

A.    Pengaruh Ekonomi Internasional Terhadap Keseimbangan  Supply dan Demand
Sistem ekonomi internasional merupakan bagian dari sistem internasional yang terdiri atas berbagai macam praktek dan pranata ekonomi. Adanya globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat di bidang informasi dan komunikasi menyebabkan segala praktek dan pranata yang ada dalam sistem ekonomi internasional turut berkembang dengan pesat pula. Perkembangan ini membawa beberapa dampak seperti makin terintegrasinya pasar-pasar modal di seluruh dunia, serta perkembangan aliran barang dan modal yang semakin besar jumlahnya. Sehingga muncul golongan profesi baru dalam perekonomian yang memanfaatkan segala praktek dan pranata ini untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.[1]
Pada prinsipnya perdagangan antara dua negara itu timbul karena adanya perbedaan di dalam permintaan maupun penawaran. Perbedaan permintaan ini misalnya karena perbedaan pendapatan dan selera. Sedangkan perbedaan penawaran misalnya dikarenakan perbedaan di dalam jumlah dan kualitas faktor-faktor produksi dan tingkat teknologi.[2]
Teori supply dan demand biasanya mengasumsikan bahwa pasar merupakan pasar persaingan sempurna. Implikasinya ialah terdapat banyak pembeli dan penjual di dalam pasar, dan tidak satupun diantara mereka memiliki kapasitas untuk mempengaruhi harga barang dan jasa secara signifikan. Jika permintaan akan kebutuhan yang diproduksi semakin tinggi, maka titik keseimbangan supply dan demand akan semakin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi dan kemampuan aspek produksi akan meningkat seiring berjalannya perubahan tingkat permintaan akan kebutuhan tersebut. Begitu juga sebaliknya, apabila permintaan akan kebutuhan yang diproduksi semakin rendah, maka titik keseimbangan akan semakin bergeser ke tingkat yang rendah dan berpengaruh buruk pada aspek supply dan demand negara. Pada dasarnya, suatu negara seperti Indonesia mampu memproduksi dan menyediakan kebutuhan yang  memang dibutuhkan dan secara tetap bersaing dalam perdagangan internasional, maka dapat terlihat dalam keseimbangan supply dan demand di Indonesia.

B.  Pengaruh Ekonomi Internassional Terhadap Pendapatan Nasional
Pengaruh aspek internasional terasa pada aspek harga, pendapatan nasional, dan tingkat kesempatan kerja negara-negara yang terlibat dalam aspek internasional tersebut. Dalam kaitannya dengan perdagangan internasional maka yang harus diperhatikan dalam peningkatan pendapatan nasional adalah pada kegiatan ekspor dan impornya. Dimana ekspor akan meningkatkan permintaan masyarakat yaitu jumlah barang dan jasa yang diinginnkan didalam negeri. Sebaliknya, impor akan menurunkan permintaan masyarakat di dalam negeri. Permintaan masyarakat akan mempengaruhi kesempatan kerja dan pendapatan nasional, dan diantara lain akan tergantung pada besarnya ekspor neto, yaitu selisih antara ekspor dan impor. Bila ekspor neto positif, berarti ekspor lebih besar daripada impor, kesempatan kerja dan pendapatan nasional akan naik. Besarnya ekspor neto sangat ditentukan oleh nilai kurs mata uang negara yang bersangkutan. Misalnya, nilai rupiah dibandingkan dengan dolar AS, harga ekspor dari Indonesia relatif lebih murah di AS, sehingga ekspor akan cenderung meningkat. Sebaliknya, harga-harga dari AS menjadi mahal sehingga impor akan cenderung menurun.
Dengan demikian, penurunan nilai kurs mata uang sendiri akan cenderung meningkatkan ekspor neto, demikian pula sebaliknya. Jadi, kegiatan serta kejadian internasional akan mempengaruhi ekonomi dalam negeri, melalui kurs mata uang pada impor, ekspor dan pada akhirnya permintaan masyarakat.[3]
Hubungan antara permintaan masyarakat dengan pendapatan nasional dapat digamparkan dengan formula di bawah ini:
Y = C + I + G + (X-M)

Dimana , Y= pendapatan nasional yang tidak lain merupakan penawaran agregat yaitu keseluruhan barang dan jasa yang dihasilkan
C= keseluruhan permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga individu.
I= keseluruhan permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga perusahaan
G= keseluruhan permintaan yang berasal dari pemerintah
X= keseluruhan ekspor
M= keseluruhan impor

Hubungan antara impor dan pendapatan nasional dinyatakan dalam berbagai cara. Salah satu cara yang banyak digunakan adalah dengan marginal propensity to impor yang merupakan bagian dari tambahan pendapatan yang digunakan untuk mengimpor barang.[4]

C.   Pengaruh Ekonomi Internasional Terhadap Apek Mikro Perusahaan       
Pengaruh ekonomi internasional terhadap aspek mikro perusahaan adalah menganalisa pasar mekanismenya yang membentuk harga relatif kepada produk dan jasa dan alokasi dari sumber terbatas diantara banyak pengguna alternatif. Aspek mikro perusahaan menganalisa  kegagalan pasar yaitu ketika pasar gagal dalam memperodiksi hasil yang efisien serta menjelaskan berbagai kondisi teoritis yang dibutuhkan bagi suatu pasar persaingan sempurna. Bidang-bidang penelitian yang penting dalam ekonomi mikro, meliputi pembahasan mengenai keseimbangan umum (general equilibrium), keadaan pasar dalam informasi asimetris, pilihan dalam kondisi ketidakpastian, serta berbagai aplikasi ekonomi dari teori permainan. Juga mendapatkan perhatian ialah pembahasan mengenai elastisitas produk dalam sistem pasar.[5]
Berikut ini akan dijelaskan mengenai pengaruh-pengaruh ekonomis yang akan digolongkan menjadi tiga, yaitu:
1.      Pengaruh pada konsumsi masyarakat
2.      Pengaruh pada produksi
3.      Pengaruh pada distribusi pendapatan masyarakat

Pengaruh Terhadap Konsumsi
Salah satu pengaruh penting terhadap konsumsi masyarakat adalah bergesernya garis Consumption  Possibility Frontier (CPF) keatas. Ini berarti bahwa karena perdagangan masyarakat bisa dengan mengatakan bahwa pendpatan riil masyarakat (yaitu, pendapatan yang diukur dari beberapa jumlah barang yang bisa dibeli oleh jumlah uang tersebut), meningkat dengan adanya perdagangan.dari segi lain dikenal dengan konsep yang sering disebut dengan nama transformasi. Transformasi adalah proses perubahan sumber-sumber ekonomi atau barang-barang dalam negeri menjadi barang-barang lain yang bisa memenuhi (konsumsi) masyarakat.
Ada satu lagi pengaruh yang penting dari perdagangan terhadap pola konsumsi masyarakat. Pengaruh ini dikenal dengan nama demonstration effects. Pengaruh ini berkaitan dengan peningkatan kemampuan berkonsumsi, yaitu pendapatan riil masyarakat. Demonstration effects atau “pengaruh percontohan” adalah pengaruh yang bersifat langsung dari perdagangan terhadap pola dan kecenderungan berkonsumsi masyarakat. Pengaruh ini bisa bersifat positif dan negatif. Demonstrasion yang bersifat positif adalah perubahan pola kecendurungan berkonsumsi yang mendorong kemauan untuk berproduksi lebih besar. Sedangkan demonstration yang bersifat negatif adalah apabila dibukanya hubungan dengan luar negeri menimbulkan pola dan kebiasaan pola konsumsi asing yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan perekonomian tersebut. Misalnya masyarakat (dimulai dari golongan yang berpenghasilan tinggi) cenderung akan meniru gaya dan kebiasaan hidup dan konsumsi dari negara-negara maju lewat “contoh-contoh” yang ditunjukan lewat media seperti film, televisi, majalah-majalah dan sebagainya.akibatnya ada kecenderungan bagi masyarakat tersebut untuk berkonsumsi yang “berlebihan”(dilihat dari tahap perkembangan ekonomi dan kemampuan produksi msyarakat). Dengan kata lain perkataan, proppensity to consume menjadi terlalu tinggi. Ini selanjutnya mengakibatkan sumber ekonomi yang tersedia untuk investasi rendah, dan ini beraerti pertumbuhan ekonomi yang rendah.[6]

Pengaruh Terhadap Produksi
Perdagangan luar negeri memiliki pengaruh yang kompleks terhadap sektor produksi di dalam negeri. Secara umum dapat dibagi menjadi empat macam, antara lain:
a)    Spesialisasi produksi
Spesialisai plus perdagangan dapat meningkatkan pendapatan riil masyarakat, tetapi spesialisasi tanpa perdagangan mungkin justru akan menurunkan pendapatan riiil dan  kesejateraan masyarakat.  Ada tiga keadaan yang membauat spesialisasi menjadi tidak selalu bermanfaat bagi suatu negara, yaitu:
1)  Ketidakstabilan pasar luar negeri
 Turunnya satu barang atau dua  barang mungkin bisa diimbangi oleh naiknya harga barang-barang lain. Inlah pertentangan antara spesialisasi dengan diversifikasi. Spesialisasi dapat meningkatkan pendapatan riil masyarakat namun dengan resiko ketidakstabilan yang tinggi. Sebaliknya diversivikasi lebih menjamin kestabilan pendapatan tetapi dengan konsekuensi harus mengorbankan sebagian dari kenaikan pendapatan dan spesialisasi.
2)  Keamanan nasional
 Ketika suatu negara memiliki keunggulan komparatif tetapi ternyata ketika itu terjadi perang atau apapun yang dapat menghambat kegiatan perdagangan luar negeri maka negara negara tersebut tidak dapat memperoleh barang dari negara tersebut. Keunggulan komparatif tidak selalu diikuti apabila kelangsungan hidup negara tersebut sama sekali tidak terjamin.
3)  Dualisme
 Sektor ekspor seakan-akan bukan merupakan bagian dari negeri itu, tetapi bagian dari pasar dunia. Dalam keadaan ini spesialisasi dan perdagangan internasional tidak memberi manfaat kepada perekonomian dalam negeri. Teori keunggulan komparatif masih memiliki kebenaran dasarnya, yaitu bahwa suatu negara seyogyanya memanfaatkan keunggulan komparatifnya dan kesempatan “transformasi lewat perdagangan”.

b)   Kenaikan “investasi surplus”
Dengan pendapatan riil yang lebih tinggi berarti negara tersebut mampu untuk menyisihkan dana sumber-sumber ekonomi yang lebih besar bagi investasi (inilah yang disebut investible surplus). Investasi yang lebih tinggi berarti laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Jadi, perdagangan bisa mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Namun tidak lepas dari berapa besar manfaat tersebut yang direalisir sebagai investasi dalam negeri, siapa yang memperoleh manfaat dan pengaruh dari manfaat tersebut terhadap pembangunan ekonomi.[7]

c)    “Vent for Surplus”
Menurut Smith, perdagangan luar negeri membuka daerah pasar baru yang lebih luas bagi hasil-hasil dalam negeri. Sumber-sumber ekonomi yang semula menganggur (surplus) sekarang memperoleh saluran (vent) untuk bisa dimanfaatkan, karena adanya daerah pasar yang baru. Yang mana konsep vent for surplus adalah bahwa pertumbuhan ekonomi tersangsang oleh terbukanya daerah pasar yang baru.

d)   Kenaikan produktivitas
Pengaruh yang terpenting dlam kegiatan perdagangan luar negeri adalah sektor produksi yang berupa peningkatan produktivitas dan efesiensi pada umumnya. Dalam hal ini ada tiga faktor yang mempengaruhi, antara lain:
1)  Economic of Scale
Yang terpenting adalah bahwa dengan makin luasnya pasaran, produksi bisa diperbesar dan dilakukan dengan cara yang lebih murah dan efisien.
2)  Teknologi Baru
Bentuk penyebaran teknologi yang bersifat tidak langsung tetapi seringkali justru sangat penting, adalah apabila para produsen dalam negeri memperoleh pengetahuan mengenai produk-produk baru, cara-cara yang lebih efisien dalam produksi, pemasaran dan manajemen perusahaan pada umumnya, semangat dan motivasi baru untuk melakukan inovasi dan sebagainya.


3)  Rangsangan Persaingan
Dalam hal ini dibukanya perdagangan mempunyai pengaruhnya yang serupa dengan masuknya perusahan-perusahaan baru yang lebih efisien ke dalam sektor tersebut. Jadi, perdagangan luar negeri bisa meningkatkan efisiensi suatu sektor melalui peningkatan persaingan. [8]

Pengaruh Terhadap Distribusi Pendapatan Masyarakat
Dalam hal distribusi pendapatan terdapat dua sudut pandang yaitu dari kaum neoklasik dan kaum anti neoklasik. Menurut kaum neoklasik hubungan luar negeri mempunyai pengaruh lebih meratakan distribusi pendapatan di dalam negeri dan antar negara. Menurut mereka, hubungan luar negeri mempengaruhi distribusi pendapatan lewat dua saluran utama yaitu: saluran perdagangan dan saluran aliran modal. Yang mana dari model ini maka dapat disimpulkan bahwa suatu negara cenderung berspesialisasi dalam barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang tersedia relatif lebih banyak di dalam negeri.
Kaum anti neoklasik mengatakan bahwa perdagangn bebas dan penanaman modal asing justru meningkatkan ketimpangan distribusi pendapatan di dalam suatu negara atau antar negara. Hal ini dikarenakan adanya unsur-unsur monopolitis, dan faktor-faktor sosio-politis yang menentukan hasil akhir dari hubungan internasional antar negara yang mana perdagangan bebas dan penanaman modal asing justru semakin memperlebar jurang antara negara miskin dan negara kaya. Masing-masing sudut pandang mempunyai unsur kebenarannya, sehingga masalahnya harus dilihat kasus demi kasus.



KESIMPULAN

Dalam kaitannya dengan pengaruh ekonomi internasional terhadap keseimbangan ekonomi maka dapat disimpulkan bahwan ekonomi internasional memiliki pengaruh yang sangat erat terhadap supply  dan demand, pendapatan nasional dan aspek mikro perusahaan.
Kesemuanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri dengan mengeluarkan biaya yang seefisisien mungkin, namun dapat melakukan investasi semaksimal mungkin. Semakin tinggi investasi menunjukkan semakin naiknya perekonomian dalam negeri. Begitupun ketika tercapai keseimbangan antara kegiatan ekspor dan impor. Yang mana dalam hal ini suatu negara harus mampu memanfaatkan sumber-sumber yang lebih agar dapat disalurkan secara optimal dalam rangka meningaktkan produktivitas dan juga menganalisa pesaing. Sehingga hasil dari kegiatan perdagangan internasional mampu didisteribusikan dengan baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menunjukkan keunggulan komparatif dari negara itu sendiri.














DAFTAR PUSTAKA

Boediono, Ekonomi Internasional, Yogyakarta: BPFE, 2012
Krugman, R. Paul dan Maurice Obstfeld, Ekonomi Internasional Teori dan Kebijakan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994
Nopirin, Ekonomi Internasional, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2010

Erick Latumeten, “Pengaruh Aspek Internasional Terhadap Keseimbangan Suplay dan Demand”, http://ericklatumeten.wordpress.com/2010/11/05/pengaruh-aspek-internasional-terhadap-keseimbangan-suplay-dan-demand/ (online), diakses pada tanggal 22 September 2014 pukul 15.30 WIB.

NN, Pengaruh ekonomi Internasional Terhadap Keseimbangan Ekonomi, (http://ekonomixiips1.blogspot.com), diakses pada Rabu, 24 September 2014
NN, Perdagangan Internasional (http://elearning.gunadarma.ac.id), diakses pada Rabu, 24 September 2014







[1] Erick Latumeten, “Pengaruh Aspek Internasional Terhadap Keseimbangan Suplay dan Demand”, http://ericklatumeten.wordpress.com/2010/11/05/pengaruh-aspek-internasional-terhadap-keseimbangan-suplay-dan-demand/ (online), diakses pada tanggal 22 September 2014 pukul 15.30 WIB.

[2] Nopirin, Ekonomi Internasional (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2010), hal. 26.
[3] NN, Pengaruh ekonomi Internasional Terhadap Keseimbangan Ekonomi, (http://ekonomixiips1.blogspot.com), diakses pada Rabu, 24 September 2014
[4] NN, Perdagangan Internasional (http://elearning.gunadarma.ac.id), diakses pada Rabu, 24 September 2014
[6] Boediono, Ekonomi Internasional (Yogyakarta: BPFE, 2012), hal. 136-138
[7] Ibid..., hal. 139-143
[8] Ibid..., hal. 144-152

Rabu, 10 September 2014

 "CINTA DATANG TERLAMBAT"

Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku
Pergi tinggalkanku

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa cinta datang terlambat

Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku
Pergi tinggalkanku

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat